Berburuk Sangka itu Tidak Baik

Saya Muslim dan saya bangga dengan itu, beberapa hari belakangan entah mengapa jemari ini seperti terarah untuk menekan deretan huruf di keyboard untuk membentuk kalimat Ambon, Poso dan beberapa nama tempat yang pernah identik dengan konflik yang berlatar belakang SARA, walaupun ngeri karena sekali-kali yang mucul adalah foto-foto "menyeramkan", tapi rasa ingin tahu dan penasaran memberanikan saya untuk beberapa detik melihat, tujuannya tentu bukan untuk itu karena yang ingin saya ketahui tidak lebih adalah penjelasan mengenai latar belakang hal/konflik tersebut, walaupun efek melihat foto-foto "menyeramkan" tersebut sedikit mempengaruhi emosi saya, pernah terbayang dalam benak saya tentang bagaimana nasib para korban, bagaimana jika itu saya, keluarga saya dan orang-orang dekat saya."Ya Allah ampunilah hamba", bahkan mungkin karena tanpa sadar sering membayangkan hal tersebut, mimpi-mimpi aneh yang berhubungan dengan konflik datang menghapiri saya pada suatu malam, ngeri dan takut pun menyelimuti.

Bukankah sisi kemanusian dimiliki oleh setiap manusia?. Ketika itu saya harus menjenguk tetangga saya di Rumah Sakit di daerah Cawang, Rumah Sakit yang menyelipkan identitas keagamaan dalam rangkaian kata pada nama Rumah Sakit tersebut, saya sebetulnya malas untuk berluwes-luwes dalam hal ini bagi saya ketika ia berbeda keyakinan maka akan ada jarak dalam beberapa hal, dan itu saya terapkan pada diri saya, suaminya yang sakit dan kebetulan berdarah Maluku kembali menerawangkan pikiran saya yang sebelumnya terkontaminasi artikel-artikel yang berbau konflik.

Bagi orang awam seperti saya mendengar kata Maluku (baca: Ambon) saja mungkin sudah tergambar kalau mereka seram dan kasar, namun gambaran itu semuanya sirna ketika saya melihat rautmuka si suami yang sedang sakit, "manusia akan selalu menjadi manusia", tidak seharusnya saya menghakimi seseorang dari latar belakangnya.  Terlihat jelas raut yang sedang menangung kepayahan, sedih, capek dan bingung itulah suasana-nya ketika saya dan keluarga sudah di dalam ruang rawat inap, di sampingnya duduk isteri ditemani anak-anaknya yang sebagian duduk sambil memijit-mijit kaki, dan sebagian lagi berdiri dengan mata memerah  mungkin karena kecapean, beberapa uban si suami yang mulai terlihat, menambah iba dalam diri saya, ucapan simpatikpun spontan meluncur dari bibir saya, "mudah-mudahan ini bisa menghibur dan mengurangi bebannya", batinku, ngobrol-ngobrol sebentar kemudian pamit, "semoga lekas sembuh ya Pak dan bisa beraktifitas kembali", sepulangnya saya mendapat hikmah yang baik, jangan berprasangka buruk, jangan merendahkan orang lain, jangan merasa diri paling baik, kepercayaan akan suatu agama adalah dimensi yg sulit dimengerti kita tidak bisa memaksakan kepercayaan terhadap orang lain, akhirnya setidaknya apa yang saya lakukan adalah hal yang baik dalam membina hubungan kami yang berbeda keyakinan. Hanya Allah yang Maha mengetahui dan hanya kepada-Nya hamba berserah.     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patung Satria Gatot Kaca

Lebaran Idul Adha si Kakek