Cerita Untukmu Kawan
Entah sudah seberapa jauh saya terdampar dalam kubangan kelam, pekat penuh kegelapan, hingga terkadang pesimis untuk bisa menemukan cahaya terang itu kembali, dulu cahaya itu dengan susah payah saya coba untuk temukan dan raih, perjuangan yang terasa nikmat dan mengharukan jika saya ingat kembali, harus kandas dan sia-sia hanya karena tidak mampu menahan rasa penasaran dan ingin tahu, pengaruh yang salah dengan mencomot referensi yang juga salah, "kamu ini kalau mau jadi orang ya.. harus merasakan dulu kehidupan orang-orang lain" getir dan kerasnya perjuangan yang saya lakukan nihil, tak berbekas dalam kasat mata dan hanya riak kecil yang sewaktu-waktu datang dalam keheningan muncul dalam kilauan cahaya pantulan dari matahari, dan itu semua hanya ada dalam tumpukan dalam memori otak saya, tanpa atau mungkin tidak bergairah untuk bisa saya realisasikan dalam bentuk nyata.
Saya masih ingat betul segarnya air wudhu ketika membasuh wajah dan anggota badan saya yang lain, kenikmatan dzikir yang begitu diucapkan menggetarkan hati, kisah-kisah teladan dari sahabat-sahabat Nabi dan para Ulama, menginspirasi saya untuk bertekad berjalan ke jelan yang Islami, tekad itu begitu bulat hingga saya pantang mudur dengan segala resikonya. Memang berat dan tidak mudah tapi hasil yang didapat sangat memuaskan dan terkadang bisa membuat kedua bola mata saya basah hingga membanjiri kelopaknya.
"Jangan bermain-main dengan api", harusnya saya sadar dampak apa yang bakalan saya terima ketika harus masuk dalam lorong panjang gelap yang belum pernah saya lewati, sepi, tertutup seperti mengisolasi dirinya dengan dunia luar bahkan terkesan sangat eksklusif, kata yang biasa disematkan untuk lelaki berjenggot dengan baju gamis putih dan perempuan berkerudung panjang dengan cadar menutupi wajahnya, saya temukan di tempat ini, sepi di luar tidak di dalam, distorsi musik dan hinggar binggarnya suara seperti dengungan lebah buat saya, cahaya kemerlip lampu menyorot kesana-kemari menari-menari memberi komando penikmatnya untuk terus meliuk-liukan tubuh mereka, sebagian berjinggrakan dan sebagian lagi asyik duduk berkelompok dengan ditemani wanita-wanita berpakaian seksi, wow apa yang saya liat tidak bisa saya percayai, karena tidak terbiasa kecanggungan saya nampak jelas, untung saja saya tidak datang sendiri, si pemberi referensi dengan sigap menagkap situasi yang sedang saya alami, dengan menyenggol pundak saya "santai saja, nanti juga terbiasa..ok tenang saja.." terus mengeloyor santai lalu melambaikan tanganya menyuruh saya untuk menghampirinya, segelas minuman telah tersedia ia sodorkan pada saya, dan tanpa basa-basi rasa ingin tahu saya menggerakan tangan saya untuk mengambil minuman tersebut, sekuat mungkin saya tahan rasa minuman yang begitu asing di lidah. dan ekspresi saya mungkin lucu. hingga gelak tawanya tak bisa terbendung, saya hanya terdiam.
Kami pulang dengan gelak tawa yang masih kami bawa sepanjang perjalanan, mungkin orang yang melihat kami berfikir kami gila, "ahh....peduli amat", malam ini saya merasakan lepas dan bebas sepertinya semua yang saya temui menarik dan indah. Semuanya berwujud kenikmatan, tak ada beban dan penat. semuanya dan semuanya.
Paginya saya masih malas untuk bergegas ku lirik sebelah saya hanya bantal guling dengan seprai yang acak-acakan, aroma minuman semalam masih keluar dalam desah nafas yang ku keluarkan dari mulut. sepintas aroma ini membuatku mual karena bau yang bercampur muntahanku, jijik membuat saya bangkit dari tempat empuk melepas lelah. pusing sekali kepala saya tapi kupaksakan melangkah ke kamar mandi. dalam renungan "apa yang telah saya lakukan, bukankah ini haram?" kutepis lamunanku dengan menyiram kepalaku dengan air yang terasa dingin walaupun ini sudah menunjukan sekitar pukul 10:00 am, dingin sekali sepertinya lebih dingin dari mandi dan wudhu yang saya lakukan ketika akan melakukan sholat subuh.
Hari demi hari saya larut dalam dunia baru yang sema semakin lama semakin saya nikmati, kesenangan yang tergambar dengan gelak tawa lepas dan teriakan kata-kata tak beraturan sepertinya menjadi hal lumrah, berbalik 180 derajat dari saya yang dulu. dalam setiap kesenangan saya merasa hati ini tidak tenang, bisikan itu selalu datang memberikan celah dalam hati ini dengan mengatakan "ini haram, ini melanggar agama, dan Allah sangat membenci ini", entah mengapa bisikan ini selalu kutepis dan kemudian makin kuabaikan bahkan tak ku gubris, selalu ada cara untuk melawan bisikin tersebu.
Mungkin Tuhan masih sayang kepadaku, setelah larut dalam kehidupan yang "ngawur" ketenangan bathin yang biasa kuporoleh dari ibadah makin lama-makin terganti dengan kesenangan yang justru membuat hati ini semakin tidak tenang, selalu saja diliputi rasa was-was entahlah itu apa, saya berubah menjadi orang yang temperament, sifat ini yang kemudian saya bawa dan saya bagikan kepada teman-teman lama dan keluarga saya. mereka tidak tahu menahu, tapi dengan keegoisan saya saya berikan itu secara paksa, mau tidak mau, siap tidak siap. yang justru tanpa saya sadari mereka berusaha menjauh dan menghindar, "lu berubah 180 derajat" ujar teman yang sangat dekat denganku, tanpa saya saya sadari kembali itu justru saya anggap sebagai kemajuan prestasi. Setelah semuanya hampir lenyap Allah menegur saya, saya jatuh sakit, hampir selama seminggu saya terbaring di tempat tidur, tidak ada teman-temanku yang datang sekedar menanyakan keadaan saya, walupun beberapa pesan singkat menghampiri ponsel bututku tapi isi pesanya standar. sampai akhirnya orang yang sangat bijaksana dan penuh kelembutan yang mencitai saya dan beberapa yang mungkin saya kecewakan dari sifat temperamental saya datang silih berganti dengan kepedulian dan rasa sayang, kedua orang tuaku yang sangat peduli dan terutama dia yang selama ini menjadi inspirasiku datang dengan senyum, memakai balutan kerudung yang sangat anggun, menyodorkan tangannya yang lembut untuk menarik saya dari kubangan lumpur, seperti tersadar dari tidur dengan mimpi-mimpi indah, saya terima kenyataan bahwa merekalah mimpi-mimpi yang selama ini saya perjuangkan, dengan kembali mendekatkan diri ini kepada-Nya dan mengharapkan Ridhonya saya titih kembali jalan untuk mencari kesenangan yang abadi tersebut.
Danau Sunter, 2010

tidak ada yang salah dalam hal kehidupan ini, semakin berfikir salah semakin bertindak salah, abaikan kata salah diri saja itu cukup memberikan arti, yang aku faham adalah kehidupan telah mengajarkan bagaimana kita bersikap, kesalahan tidak mutlak salah, terkecuali terbukti memberikan keuntungan untuk orang banyak, baru tidak disebut kesalahan, yakin dan pasti akan menguntungkan orang banyak ...bermanfaalah diri kita hidup didunia.......
BalasHapus